Fakta Warga, Jakarta – Kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi perempuan Indonesia, dengan tingkat kematian yang mengkhawatirkan. Data Globocan 2022 menunjukkan, setiap harinya di perkirakan 56 perempuan meninggal dunia akibat penyakit ini, menjadikannya salah satu kanker paling mematikan di Tanah Air.
Dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penanggulangan Penyakit Tidak Menular Kemenkes, mengungkapkan kekhawatirannya atas tingginya angka kematian yang mencapai 13,2 per 100.000 penduduk. “Yang memprihatinkan, lebih dari 50% kasus berakhir fatal karena biasanya baru terdeteksi pada stadium lanjut,” ujarnya dalam konferensi pers, Sabtu (14/6/2025).
Deteksi Dini Kunci Selamatkan Nyawa dari Kanker Serviks
Menurut data Globocan 2022, dari total 408.661 kasus kanker di Indonesia, sebanyak 36.964 di antaranya adalah kanker serviks. Sayangnya, banyak pasien baru menyadari gejalanya ketika kondisi sudah parah. Beberapa tanda kritis yang patut di waspadai antara lain penurunan berat badan drastis akibat hilangnya nafsu makan, serta munculnya darah dalam urine atau saat buang air besar.
Gejala lain yang sering di abaikan adalah pembesaran perut akibat perkembangan. Sel kanker, d isertai keluhan fisik seperti mual, muntah, kejang, atau diare berkepanjangan. “Ini semua adalah alarm bahaya yang tidak boleh dia nggap remeh,” tegas dr. Nadia.
Pentingnya Skrining Rutin
Keterlambatan deteksi menjadi faktor utama tingginya angka kematian. Padahal, dengan pemeriksaan rutin seperti Pap smear atau tes IVA. Kanker serviks bisa di diagnosis sejak dini ketika peluang kesembuhan masih tinggi.
Masyarakat di imbau untuk tidak menunggu munculnya gejala, tetapi aktif melakukan pencegahan melalui vaksinasi HPV dan skrining berkala. “Kanker serviks sebenarnya bisa di cegah dan diobati jika di temukan pada stadium awal,” pungkas dr. Nadia.
Tingkat kesadaran akan bahaya kanker serviks di Indonesia masih tergolong rendah. Edukasi massal dan akses layanan kesehatan yang merata menjadi kunci untuk menekan angka kematian akibat penyakit ini.
Modus Baru Penipuan Online: Hacker Menyamar sebagai Pencari Kerja




