Fakta Warga – Di tengah meningkatnya ketegangan global antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, respons politik di Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik.
Salah satu langkah paling menonjol datang dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Partai ini menjadi yang pertama secara terbuka mengutuk serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Tak berhenti pada pernyataan politik. Sejumlah elite PKB juga tercatat menjadi yang pertama bertemu dengan Duta Besar Iran di Indonesia untuk menyampaikan dukacita dan solidaritas.
Secara kasat mata, langkah tersebut tampak sederhana sebuah pernyataan sikap dan gestur diplomatik. Namun jika ditempatkan dalam konteks politik yang lebih luas. Tindakan ini memunculkan pertanyaan yang menarik: apakah sekadar ekspresi moral, atau justru strategi politik yang terukur?
Menariknya, sikap PKB muncul ketika sebagian partai Islam lain cenderung berhati-hati. Misalnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang selama ini dikenal vokal dalam isu geopolitik dunia Islam. Tidak segera mengeluarkan pernyataan kelembagaan yang kuat.
Kehati-hatian tersebut sebenarnya dapat dipahami. Iran merupakan negara dengan identitas Syiah yang kuat, sementara basis sosial politik sebagian besar partai Islam di Indonesia berada dalam tradisi Sunni yang sensitif terhadap isu sektarian.
Di titik inilah PKB mengambil jalur berbeda. Partai yang memiliki akar kuat dalam tradisi Nahdlatul Ulama itu tampak menempatkan isu Iran bukan dalam kerangka sektarian, melainkan dalam narasi kemanusiaan dan perdamaian dunia.
Langkah ini dapat dibaca melalui konsep symbolic politics yang diperkenalkan ilmuwan politik Murray Edelman. Dalam pandangan Edelman, banyak tindakan politik tidak selalu bertujuan menghasilkan kebijakan konkret, melainkan membangun simbol yang mampu membentuk emosi dan persepsi publik.
Baca Juga: Menteri KKP Target Setop Impor Garam 2027, PKB: Kelamaan, Petani Sudah Lama Jadi Korban
Dalam konteks ini, solidaritas PKB terhadap Iran dapat dipahami bukan sekadar sebagai posisi geopolitik, tetapi juga sebagai simbol keberpihakan terhadap keadilan global.
Dengan kata lain, gestur politik tersebut memiliki dimensi yang lebih dalam daripada sekadar diplomasi informal. Ia menjadi sinyal bahwa politik domestik Indonesia tidak sepenuhnya terpisah dari arus besar geopolitik dunia.
Untuk membaca langkah PKB lebih jauh, kerangka teori dari sosiolog Prancis Pierre Bourdieu juga relevan. Bourdieu menjelaskan bahwa dalam masyarakat modern, aktor politik tidak hanya bertumpu pada modal ekonomi atau sosial, tetapi juga modal simbolik dan moral.
Modal moral terbentuk ketika seorang aktor atau institusi dipersepsikan memiliki legitimasi etis di mata publik. Dalam politik Islam Indonesia, isu seperti Palestina, konflik Timur Tengah, atau solidaritas terhadap umat sering kali menjadi sumber penting bagi pembentukan modal moral tersebut.
Dalam perspektif ini, sikap PKB terhadap Iran dapat dibaca sebagai upaya membangun moral capital di hadapan publik Muslim Indonesia.
Selain itu, langkah PKB juga dapat dipahami melalui konsep first mover advantage keuntungan bagi pihak yang pertama mengambil posisi dalam suatu isu. Konsep ini dikenal luas dalam ekonomi politik dan sering dikaitkan dengan pemikiran Joseph Schumpeter.
Dalam kerangka Schumpeter, inovasi tidak selalu berarti teknologi atau ekonomi. Dalam politik, inovasi dapat berupa kemampuan membaca momentum simbolik sebelum pesaing melakukannya.
PKB tampaknya memainkan logika tersebut. Ketika sebagian partai Islam memilih bersikap hati-hati, PKB justru mengisi ruang narasi yang masih kosong. Dalam politik, ruang narasi yang kosong sering kali lebih penting daripada ruang kekuasaan formal.
Ada pula dimensi diferensiasi ideologis yang menarik. Selama ini, dalam lanskap politik Islam Indonesia, PKS dikenal kuat dalam isu solidaritas umat global, terutama terkait Palestina.
Namun dengan mengambil sikap tegas terhadap Iran, PKB berpotensi memperluas ruang tersebut.
Strategi ini menjadi menarik karena PKB tidak masuk melalui jalur ideologi konservatif, melainkan melalui pendekatan Islam cosmopolitan sebuah perspektif yang lebih menekankan nilai kemanusiaan universal dibandingkan identitas sektarian.
Akar pendekatan ini dapat ditelusuri pada pemikiran Presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur kerap menekankan bahwa Islam Indonesia memiliki tradisi inklusif yang mampu menjembatani perbedaan mazhab dan identitas keagamaan.
Baca Juga: Lebih dari Satu Juta Warganet Hadiri Halal Bihalal TikTok PKB Bersama Cak Imin
Jika dibaca dalam kerangka ini, langkah PKB bukan sekadar sikap politik sesaat, melainkan upaya merevitalisasi tradisi Islam moderat Indonesia dalam arena geopolitik.
Dinamika ini juga dapat dianalisis melalui konsep politik peradaban yang diperkenalkan oleh ilmuwan politik Samuel Huntington dalam karyanya The Clash of Civilizations. Huntington berpendapat bahwa konflik dunia pasca-Perang Dingin semakin dipengaruhi oleh identitas peradaban.
Terlepas dari kontroversinya, teori tersebut membantu menjelaskan mengapa isu seperti Iran atau Palestina memiliki resonansi emosional yang kuat di banyak negara Muslim, termasuk Indonesia.
Bagi sebagian publik, konflik tersebut tidak semata dipandang sebagai persoalan geopolitik, tetapi juga sebagai simbol relasi antara dunia Islam dan Barat.
Dalam konteks ini, sikap PKB dapat dibaca sebagai upaya membaca emosi geopolitik umat.
Yang menarik, muncul sebuah paradoks politik: partai yang selama ini dikenal relatif moderat justru tampil paling vokal dalam isu geopolitik, sementara partai yang dikenal lebih ideologis memilih bersikap lebih hati-hati.
Paradoks ini menunjukkan bahwa politik tidak selalu bergerak sesuai stereotip ideologis. Dalam banyak kasus, keberhasilan politik justru ditentukan oleh kemampuan membaca momentum.
Di sinilah muncul kemungkinan bahwa langkah PKB merupakan bagian dari perebutan kepemimpinan narasi dalam politik Islam Indonesia.
Selama dua dekade terakhir, narasi solidaritas umat dalam isu global sering kali didominasi oleh kelompok tertentu. Namun dengan mengambil posisi yang jelas dalam isu Iran, PKB membuka peluang untuk memasuki ruang tersebut.
Baca Juga: Legislator PKB Miftahul Akhyar Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Mempawah
Jika strategi ini dijalankan secara konsisten. Misalnya melalui isu Palestina, konflik kemanusiaan global, atau diplomasi antarumat PKB dapat membangun identitas baru sebagai partai Islam yang aktif dalam isu geopolitik.
Identitas semacam ini berpotensi memiliki dampak elektoral, terutama di kalangan pemilih Muslim muda yang semakin terhubung dengan isu global melalui media sosial.
Namun tentu saja, strategi ini tidak tanpa risiko. Politik Timur Tengah dikenal sangat kompleks, sarat dengan dimensi sektarian dan rivalitas geopolitik. Terlalu jauh terlibat dalam narasi tertentu berpotensi menimbulkan resistensi di dalam negeri.
Karena itu, keberhasilan langkah PKB tidak hanya ditentukan oleh keberanian mengambil posisi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara solidaritas global dan sensitivitas domestik.
Pada akhirnya, langkah PKB menunjukkan bahwa politik Indonesia tidak lagi sepenuhnya terpisah dari dinamika global.
Dalam era komunikasi digital dan geopolitik yang semakin terhubung, isu internasional dapat dengan cepat menjadi sumber legitimasi politik domestik.
Dan mungkin di situlah inti dari fenomena ini: PKB mungkin tidak sedang mencoba memengaruhi politik Iran. Yang mereka lakukan adalah membaca perubahan lanskap emosi politik umat di Indonesia dan berusaha berada selangkah di depan dalam perebutan makna dan narasi.




