Solmadapar Tagih Janji Keadilan: 25 Tahun Tragedi Berdarah Syafaruddin Usman

Solmadapar Tagih Janji Keadilan: 25 Tahun Tragedi Berdarah Syafaruddin Usman
Solmadapar Tagih Janji Keadilan: 25 Tahun Tragedi Berdarah Syafaruddin Usman.

FAKTA WARGA, Pontianak – Tepat 25 tahun sejak tragedi kelam yang merenggut nyawa Syafaruddin Usman, ratusan massa dari Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Pengemban Amanat Rakyat (Solmadapar) kembali turun ke jalan. Sabtu, 14/6.

Aksi damai ini digelar untuk mengenang almarhum serta menuntut pertanggungjawaban hukum atas kematiannya yang hingga kini masih belum terselesaikan.

Syafaruddin Usman, seorang mahasiswa Politeknik Negeri Pontianak, tewas tertembak peluru aparat pada 14 Juni 2000 saat mengikuti aksi demonstrasi.

Namun, sejak peristiwa itu terjadi, tidak satu pun aparat dinyatakan bersalah. Proses hukum mandek, dan kejelasan tentang siapa pelaku penembakan tak kunjung terungkap.

Solmadapar Tagih Janji 100 Hari Kerja, Gubernur Kalbar Ria Norsan Tanggapi Langsung

Dalam orasi yang disampaikan oleh Koordinator Lapangan, Sultan Daulad Akbar, Solmadapar menegaskan bahwa tragedi ini bukan sekadar catatan sejarah keluarga korban, melainkan luka bersama bagi gerakan mahasiswa, rakyat Kalimantan Barat, dan seluruh pejuang keadilan di Indonesia.

“Syafaruddin bukan sekadar statistik korban kekerasan negara. Ia adalah nyawa yang direnggut dari ruang demokrasi. Dan sampai hari ini, pelakunya belum juga diadili,” ujar Sultan dalam orasinya di depan Mapolda Kalbar.

Tuntutan Aksi: Hentikan Kekerasan, Beri Penghormatan

Solmadapar juga menyoroti budaya impunitas yang masih kuat dalam institusi keamanan negara. Mereka menyerukan agar tidak ada lagi peluru yang diarahkan untuk membungkam suara rakyat.

Dalam aksi ini, para peserta juga membawa tuntutan simbolis agar nama jalan tempat Syafaruddin tertembak diabadikan menjadi Jalan Syafaruddin Usman sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanannya.

Aksi ini bukan sekadar peringatan, tetapi juga penegasan bahwa perjuangan Syafaruddin akan terus hidup.

“Suaranya tidak akan padam. Kata-kata keadilan akan terus bergema di jalan-jalan, di ruang kelas, dan di hati kami sekawan perjuangan,” lanjut Sultan.

Dengan membawa spanduk, foto-foto almarhum, dan nyala lilin, aksi damai ini menjadi pengingat bahwa demokrasi yang kita miliki hari ini dibayar mahal. Syafaruddin Usman menjadi simbol dari luka dan harapan, bahwa suatu hari nanti, keadilan akan benar-benar ditegakkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *