Fakta Warga, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan jumlah titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan pemantauan citra satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, dan NOAA20 per Sabtu (27/7) pukul 00.16 WIB. Wilayah Kalimantan menjadi yang paling terdampak dengan total 143 titik panas.
Dari angka tersebut, 10 titik panas di Kalimantan di kategorikan tinggi, yang menunjukkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) cukup serius. Sisanya, 47 titik masuk kategori sedang dan 86 titik tergolong rendah.
Wilayah lain yang juga mencatat peningkatan titik panas adalah Sumatera dengan 53 titik. Terdiri dari 3 kategori tinggi, 22 sedang, dan 28 rendah. Jawa terdeteksi 19 titik panas, semuanya berada dalam kategori rendah.
Baca Juga: Ratusan Massa Tolak Program Transmigrasi, DPRD Kalbar Janji Kawal Aspirasi ke Pusat
Sementara itu, Sulawesi mencatat 7 titik panas, dengan 6 masuk kategori rendah dan 1 sedang. Di Nusa Tenggara, terpantau 5 titik panas (4 rendah, 1 sedang). Sedangkan Papua dan Maluku masing-masing mencatat 1 titik panas kategori rendah.
Peta persebaran hotspot ini menunjukkan adanya peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Terutama di Kalimantan dan Sumatera yang konsisten menjadi wilayah dengan sebaran titik panas terbanyak.
“BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta melakukan mitigasi dini guna mencegah bencana ekologis,” kata Guswanto, Deputi Meteorologi BMKG.
Ia menambahkan, pemantauan titik panas di lakukan secara berkala dan terus diperbarui. Guna mendukung langkah penanggulangan kebakaran hutan dan bencana asap yang kerap mengancam kualitas udara dan kesehatan publik di musim kemarau.




