Fakta Warga – Seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Teguh mengalami nasib nahas setelah menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh oknum prajurit TNI Kodam XII/Tanjungpura. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (20/9/2025) sekitar pukul 14.30 WIB di kawasan Jalan Seruni, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak.
Akibat insiden tersebut, Teguh menderita luka di bagian hidung serta memar pada wajah. Peristiwa yang menimpa pria tersebut sontak mendapat perhatian publik, terutama karena pelaku diketahui merupakan seorang anggota TNI aktif berinisial F.
Wakapendam XII/Tanjungpura, Letkol Inf Agung W. Palupi, membenarkan peristiwa itu dalam konferensi pers yang digelar Sabtu malam. Ia menjelaskan bahwa laporan terkait kasus tersebut telah diterima oleh Polisi Militer (Pomdam) beberapa jam setelah kejadian berlangsung.
“Iya, memang benar tadi siang ada permasalahan antara oknum anggota kami berinisial F dengan salah seorang pengemudi ojek online. Laporan resmi juga sudah masuk ke Pomdam XII/Tanjungpura setelah salat Ashar,” ujar Agung.
baca juga: Viral Video ‘Rampok Uang Negara’, PDI-P Pecat Wahyudin Moridu
Lebih lanjut, pihak Kodam XII/Tanjungpura menegaskan bahwa proses hukum akan tetap dijalankan melalui jalur militer. Meski telah dilakukan pertemuan mediasi antara pihak keluarga korban, pelaku, serta perwakilan perusahaan transportasi online, keputusan akhirnya adalah membawa perkara ini ke pengadilan militer.
“Mediasi sudah dilakukan dengan menghadirkan perwakilan keluarga korban, penasihat korban, juga perwakilan dari Gojek. Hasilnya, semua sepakat untuk tetap menghormati jalannya proses hukum. Persidangan militer akan menjadi forum resmi untuk menentukan sanksi terhadap pelaku,” tambah Agung.
Keterlibatan aparat dalam kasus penganiayaan semacam ini bukan hanya merugikan korban secara fisik maupun psikologis, tetapi juga dapat mencoreng citra institusi militer. Oleh karena itu, pihak Kodam menegaskan bahwa tidak ada toleransi bagi tindakan yang melanggar hukum dan mencederai disiplin prajurit.
Kasus yang menimpa Teguh ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penegakan hukum harus berlaku sama kepada semua warga negara, termasuk anggota militer. Proses peradilan yang akan digelar di pengadilan militer diharapkan dapat memberikan rasa keadilan bagi korban serta keluarga, sekaligus menjadi bentuk pertanggungjawaban institusi terhadap masyarakat sipil.
Dengan adanya komitmen untuk melanjutkan perkara hingga ke ranah persidangan, publik kini menantikan sejauh mana transparansi dan ketegasan aparat dalam menangani kasus ini. Sementara itu, Teguh masih menjalani perawatan akibat luka yang dideritanya, sembari menunggu kepastian hukum terhadap pelaku.




